Komen

Tinggalkan Komentar sebagai perbaikan

Komentar yang Ikwan maupun akhwat berikan di Blog ini sangat bermanfaat sekali untuk perbaikan... Diharapkan masukan yang ditinggalkan merupakan masukan yang membangun dan tidak mengandung unsur provokasi.. Syukron..

Satu Hati Kuatkan Dakwah islam di Ekonomi

Posted by Formi Madani On 12:59 PM 0 comments




Hari ini cuaca tidak begitu cerah, hal itu bertahan sebelum hujan deras mengguyur diatas pukul 11, hingga bermalas - malasan sepertinya adalah satu-satunya hal yang diminati banyak orang dalam kondisi seperti ini, tidak terkecuali 'Mahasiswa'.

Contras, pilihan berbeda yang diambil beberapa mahasiswa ekonomi, semenjak jam sepuluh telah berada di areal GM untuk persiapan Temu Ramah ADK, ADKP dan Alumni. dan sejak jam 10.30 pagi mereka berpacu bersama rintik - rintik hujan yang turun, demi sebuah kata 'Dakwah'.

Waktupun bergulir, jam satu acara dimulai dengan kedatangan salah seorang ADKP, Pak Abror pun datang meski sempat mendapati panitia menyusun kursi untuk acara, dan agenda dibuka oleh Bejo, berlanjut dengan Tilawah kemudian kata sambutan dari ketua panitia: Rahmad, dan pastinya kata sambutan ketua Formi: Relfi Andra.

Tausiyah dari Pak Abror menghangatkan suasana dan setelah itu diskusi yang fasilitasi oleh tiga orang ADKP, Pak Hendri Andi Mesta, Pak Gesit thabrani dan Pak Abror, Edo andrefson seorang mahasiswa dan juga aktivis kampus yang energetic mengambil peranan sebagai seorang moderator.

Situasi acara mengikuti alurnya masing - masing, berdiskusi tentang tutorial, wisma dan keislaman diketengahkan dihadapan peserta, hingga tidak terasa Azan pun menggema dan para Peserta berhimpun dalam satu tujuan, Mesjid Al-Azhar.


Setelah asar jumlah persertapun tidak berkurang, 'formi madani selalu dihati' menjadi obat penyejuk di hati untuk menepis sejenak kelelahan yang menyapa, "Satu hati, kuatkan Dakwah Islam di Ekomi" kata - kata di spanduk mengharu birukan semangat mereka seiring dengan angin badai yang menerpa diluar sana. 24 orang akhwat, 6 dari 2010, 6 orang 2009, 8 orang 2008 dan 4 orang dari 2007.

10 orang ikhwan, yang mengaliri ombak dakwah di kampus pun tidak kalah dengan semangat 100 orang mujahid. Allahu Akbar !!

Tepat jam lima kurang sepuluh menit, peserta ikhwan meninggalkan ruangan untuk berdiskusi tentang gerakan dakwah kedepannya sedangkan peserta akhwat mendapat kehormatan menempati ruangan namun dengan agenda yang sama, diskusi tentang dakwah formi selanjutnya.. dan Subhanallah melihat semangat dimata mereka untuk melanjutkan langkah dakwah yang telah dimulai dan tak akan berakhir ini. Melihat mereka seperti melihat ADK yang kini menjadi BP tertua dalam kalender akademik,, ide-ide segar bermunculan dari masing-masing peserta setelah mereka dibagi berdasarkan gender dan itu indah, seindah islam menghargai mereka yang bertahan dalam hijabnya.

Agenda temu ramah yang terasa memang benar-benar ramah untuk semua peserta sehingga perlahan terlihat harapan kedepan agar ukhuwah ini tetap bertahan dan semakin erat, agar Formi dikenal bukan karena ketidak legalannya tapi karena rangkaian acara yang diangkatkannya, agar Formi mengerti kebutuhan yang sedang dirasa mahasiswa dan agar anggota yang tergabung mendapat amunisi semangat dari rangkaian kegiatan internal yang baru saja diusulkan oleh salah seorang ADK 2010.

Rangkaian acara berakhir menjelang jam 6 sore, tak ada wajah letih ketika tiga kali takbir diteriakkan, dan sebelum keluar ruangan,,sekali lagi spanduk menyita perhatian ‘Satu hati, Kuatkan Dakwah Islam di Ekonomi’ dan segera kuaminkan.

Kita telah memulainya, dan kita tidak akan mengakhirinya . . .



Category : edit post

Temu Ramah FORMI dengan Peserta OR

Posted by Formi Madani On 6:30 PM 0 comments



Alhamdulillah…..

Terus berusaha untuk menjadi organisasi yang mewadahi anggotanya menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari, hingga menjadi generasi Rabbani, berorientasi tidak hanya kesejahteraan dunia, tapi juga kesuksesan akhirat, itulah FORMI MADANI……..

Pada Sabtu, 10 April 2010 pengurus FORMI MADANI 2009/2010 mengadakan acara Temu Ramah dengan adik-adik BP 2009 yang masuk dalam Open Recruitment (OR) FORMI MADANI. Acara yang berlangsung dari pukul 14.00 hingga azan ashar ini diadakan di GM 4 UNP.

Acara ini dipandu oleh Muhammad Sugero, mahasiswa jurusan akuntansi BP 2009. Setelah pembacaan Alquran, pengarahan singkat tentang acara dijelaskan oleh koordinator KPSDA. setelah penjelasan singkat tentang acara, Ketua Umum FORMI MADANI, Relfi Yandra, Memandu acara inti, yaitu sesi pengenalan FORMI MADANI. Ketua Umum FORMI yang merupakan mahasiswa pendidikan ekonomi BP 07 ini menampilkan video profil FORMI MADANI, memperkenalkan pengurus FORMI MADANI, dan memberikan kesempatan kepada generasi 09 FORMI MADANI untuk memperkenalkan diri.

Sebelum acara ditutup, pengurus FORMI memberikan pengumuman tentang adanya sistem magang bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi BP 09 dalam ikut berperan serta dalam mengadakan kegiatan-kegiatan FORMI.



i luph islam

Posted by Formi Madani On 4:46 AM 0 comments





Photobucket



Category : edit post
Posted by Formi Madani On 9:38 AM 0 comments

Yang Tak Lelah di Jalan Dakwah

Kelelahan adalah hasil dari upaya pergerakan yang mencapai titik optimal. Sebuah usaha yang dilakukan tanpa henti, namun bisa juga berkelanjutan. Kelelahan adalah tapal batas ikhtiar seseorang yang menunjukkan batas kemampuannya. Kelelahan adalah ujung titik perjalanan dari satu titik permulaan di sisi lain.. Kelelahan adalah awal dari kebugaran. Kelelahan bukan tidak bisa terobati

Umar merasa gelisah. Sebagai Amirul Muminin dia harus mengambil tanggung jawab ini. Dan ketika Umar bin Khatab hendak pergi ke medan perang untuk memimpin kaum Muslimin menghadapi pasukan Persia. Para sahabat mencegah kepergian Umar. Abdurrahman bin Auf melarang kepergian Umar. “Sebaiknya engkau tetap berada di Madinah, kepergian engkau akan sangat berbahaya bagi keselamatanmu. Saat ini Islam sedang menghadapi hari-hari yang menentukan. Kirimlah seorang di antara kami untuk menghadapi pasukan Persia,” ujar Abudarrahman. Setelah melalui musyawarah, akhirnya diputuskan Saad bin Abi Waqqash yang menjadi pemimpin pasukan kaum Muslimin melawan pasukan Persia yang dipimpin oleh Jenderal Rustum.

Saad bin Malik Az-Zuhri, biasa dikenal dengan sebutan Saad bin Abi Waqqash, adalah paman Rasulullah saw dari pihak Ibu. Saad bergabung dalam barisan Islam saat berusia 17 tahun. Menurut suatu riwayat Saad berbaiat bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka adalah para pionir ketika Islam baru terbit di langit Mekah.

Sebelum perang Qadisiyah meletus, perang melawan tentara Persia, Saad melakukan proses dialog dengan pihak Persia. Apakah mereka akan tunduk di bawah naungan Allah. Dialog pun terjadi:

“Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian kepada Allah. Dari memandang dunia secara sempit untuk memandangnya secara luas. Dari kezaliman pihak penguasa kepada keadilan Islam. Barang siapa yang mau menerima tentu kami terima dan kami biarkan mereka. Tapi siapa saja yang memerangi kami, tentu mereka kami perangi pula hingga kami mencapai apa yang dijanjikan Allah,” ucap utusan pasukan Islam.

“Apa yang dijanjikan Allah kepada kalian?”, tanya Rustum.

“Surga bagi kami yang mati syahid dan kemenangan bagi yang masih hidup,” jawab mereka.

Di mata Rasulullah saw, Saad memiliki keistimewaan, bukan karena dia paman Rasul. Setidaknya ada dua keistimewaan yang mengalir dalam diri Saad, yaitu panah dan doa. Saad adalah sahabat Rasulullah yang melepaskan busur panah pertama kali ke hadapan kafir Quraisy. Di waktu perang Uhud Rasulullah pernah berucap ”Panahlah hai Saad! Ibu bapakku menjadi jaminan.” Ali bin Abu Thalib menuturkan bahwa dia belum pernah mendengar Rasulullah menjadikan orang tuanya sebagai jaminan kecuali kepada Saad. Selama terjun dalam barisan jihad, panah Saad tidak pernah meleset satu pun dari sasaran kaum kafir. Keistimewaan lainnya adalah bila Saad berdoa maka doanya tidak pernah “meleset” (baca:selalu dikabulkan).

Perang tidak bisa dihindari. Saat perang mencapai puncaknya, saat itu juga Saad mengalami penyakit bisul disekujur tubuhnya. Jelas hal itu tidak menghalanginya. Perang pun pecah. Ada 30 ribu pasukan Islam dihadapan pasukan Persia yang berjumlah 100 ribu orang. Takbir menggema ke sudut-sudut padang pasir. Debu-debu beterbangan. Kaum Muslimin berhasil menyelimuti dan memporak-porandakan pasukan Persia.

Suatu ketika Saad berhadapan dengan peristiwa yang dilematis. Ibunya mengancam akan mogok makan dan minum jika Saad tetap memeluk Islam. Pada akhirnya sang Ibu melakukan niatannya. Saad bergeming. Rayuan menghampiri Saad ketika dia melihat kondisi sang ibu yang semakin parah dan kritis. Luluh hati Saad, tapi keimanan Saad telah menghujam jauh ke dasar hati. Lebih keras dari logam apapun di dunia ini. Lebih kuat dari batu apapun di alam semesta ini. Saad hanya berucap:

“Demi Allah, meski Ibu memiliki seratus nyawa, lalu keluar helai demi helai aku tidak akan meninggalkan agama ini,” ujar Saad. Peristiwa itu dikenang dalam Alquran surah Luqman:15.

Pasukan Persia masih menunjukkan kukunya. Meski mereka pontang-panting dalam perang Qadisiyah, masih ada serpihan-serpihan tentara Persia yang melakukan perlawanan. Dua tahun berikutnya dalam perang Madain (nama daerah di Irak) Saad kembali berhadapan dengan sisa tentara Persia. Sejarah telah mencatat bahwa pemimpin-pemimpin yang hebat tidak takut dengan perubahan. Mereka menganggap perubahan (hal baru) adalah suatu tantangan dan media meng-upgrade diri.

Pasukan Islam tidak saja berhadapan dengan tentara Persia, tapi juga harus menghadapi luas dan ganasnya Sungai Tigris. Ini adalah tantangan baru karena selama ini pasukan Islam belum pernah melalui air atau sungai. Besarnya keyakinan akan pertolongan dari Allah, mereka berhasil menundukkan sungai Tigris yang lebarnya seperti lautan. Mereka terjun ke sungai tidak jauh berbeda seperti mereka berjalan diatas padang pasir. Tidak ada tanda kelelahan di raut wajah mereka. Inilah karakter pemimpin besar yang tidak takut akan perubahan dihadapannya. Dan sekali lagi, Saad berhasil memadamkan api pemujaan di Persia untuk selamanya.

Saad bin Abi Waqqash adalah sahabat Rasulullah dari kalangan Muhajirin yang terakhir menutup usia. Saad terbenam pada usia 80 tahun. Allah menghendaki Saad wafat di atas ranjang bukan di medan perang. Namun hal itu tidak mengubah status syahidnya. Allah telah menyediakan ranjang terindah di surga-Nya untuk Saad. Ketika meninggal, hanya sehelai kain kusam yang menjadi kafannya. Kain itulah yang menjadi jirah (baju perang) saat menghadapi kaum kafir pada Perang Badar.

Selama menarik nafasnya di dunia, Saad tidak pernah sekerat pun memasukkan makanan haram ke dalam mulutnya. Lidah Saad terjaga dari kata-kata yang buruk. Hatinya senantiasa bersih dan tidak pernah menaruh dendam sedikit pun kepada orang lain. Dialah yang tidak pernah lelah di jalan dakwah hingga ujung usianya. Itulah amunisi Saad ketika membawa panji-panji Islam.

Wallahualam

sumber

Category : edit post

About Me

Followers