Komen

Tinggalkan Komentar sebagai perbaikan

Komentar yang Ikwan maupun akhwat berikan di Blog ini sangat bermanfaat sekali untuk perbaikan... Diharapkan masukan yang ditinggalkan merupakan masukan yang membangun dan tidak mengandung unsur provokasi.. Syukron..

Bencana "Satu Ujian dari-Nya"

Posted by Formi Madani On 6:26 PM 0 comments



“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit rasa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, orang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [Al Baqarah/2:155-157]

PENJELASAN AYAT
Firman Allah Ta’ala :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan”.
Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, (pada ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menguji dan menempa para hamba-Nya. Terkadang (mengujinya) dengan kebahagiaan, dan suatu waktu dengan kesulitan, seperti rasa takut dan kelaparan. [2]

Senada dengan keterangan sebelumnya, Syaikh Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menyatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia pasti akan menguji para hambaNya dengan bencana-bencana. Agar menjadi jelas siapa (di antara) hamba itu yang sejati dan pendusta, yang sabar dan yang berkeluh-kesah. Ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas para hamba-Nya. Seandainya kebahagiaan selalu menyertai kaum Mukminin, tidak ada bencana (yang menimpa mereka), niscaya terjadi percampuran, tidak ada pemisah (dengan orang-orang tidak baik). Kejadian ini merupakan kerusakan tersendiri. Sifat hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala (ini) menggariskan adanya pemisah antara orang-orang baik dengan orang-orang yang jelek. Inilah fungsi musibah”.[2]

Makna dari “dengan sedikit ketakutan dan kelaparan,” yaitu takut kepada para musuh dan kelaparan yang ringan. Sebab bila diuji dengan rasa takut yang memuncak atau kelaparan yang sangat, niscaya mereka akan binasa. Karena, hakikat ujian adalah untuk menyeleksi, bukan membinasakan. Sedangkan musibah berupa “kekurangan harta,” mencakup berkurangnya harta akibat bencana, hanyut, hilang, atau dirampas oleh sekelompok orang zhalim, ataupun dirampok.
Adapun bencana yang menimpa “jiwa,” yaitu berupa kematian orang-orang yang dicintai. Misalnya, seperti anak-anak, kaum kerabat dan teman-teman. Atau terjangkitinya tubuh seseorang, atau orang yang ia cintai oleh terjangkiti berbagai penyakit.

Berkaitan dengan kekurangan pada “buah-buahan,” lantaran bergulirnya musim dingin, salju, terjadinya kebakaran, gangguan dari belalang dan hewan lainnya, sehingga kebun-kebun dan ladang pertanian tidak menghasilkan sebagaimana biasanya.[3]

Semua ini dan bencana lain yang serupa, merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya. Barangsiapa bersabar, niscaya akan memperoleh pahala. Dan orang yang putus asa, akan ditimpa hukuman-Nya. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat ini dengan berfirman:
“(Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar)”.[4]
Maksudnya, berilah kabar gembira atas kesabaran mereka. Pahala kesabaran tiada terukur. Akan tetapi, pahala ini tidak dapat dicapai, kecuali dengan kesabaran pada saat pertama kali mengalami kegoncangan (karena tertimpa musibah).[5]

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kriteria orang-orang yang bersabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“(Yaitu), orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Kata-kata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” inilah, dikenal dengan istilah istirja’, yang keluar dari lisan-lisan mereka saat didera musibah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Mereka menghibur diri dengan mengucapkan perkataan ini saat dilanda (bencana) dan meyakini, bahwa mereka milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berhak melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Mereka juga mengetahui, tidak ada sesuatu (amalan baik) yang hilang di hadapan-Nya pada hari Kiamat. Musibah-musibah itu mendorong mereka mengakui keberadaanya sebagai ciptaan milik Allah, akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak.”[6]
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kata-kata itu sebagai sarana untuk mencari perlindungan bagi orang-orang yang dilanda musibah dan penjagaan bagi orang-orang yang sedang diuji. Karena kata-kata itu mengandung makna yang penuh berkah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala [inna lillahi] ini mengandung nilai tauhid dan pengakuan penghambahaan diri, dan di bawah kepemilikan Allah.
Sedangkan firmanNya [wainna ilaiyhi rajiu'un] mengandung makna pengakuan terhadap kehancuran yang akan menimpa manusia, dibangkitkan dari kubur, serta keyakinan bahwa segala urusan kembali kepada Allah.[7]

“(Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya)”.
Betapa besar balasan kebaikan yang diperoleh orang-orang yang mampu bersabar, menahan diri dalam menghadapi musibah dari Allah, Dzat yang mengatur alam semesta ini.
Kata Imam al Qurthubi rahimahullah : “Ini merupakan rangkaian kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’. Yang dimaksud “shalawat” dari Allah bagi hamba-Nya, yaitu ampunan, rahmat dan keberkahan, serta kemuliaan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sedangkan kata “rahmat” diulang lagi, untuk menunjukkan penekanan dan penegasan makna yang sudah disampaikan”. [8]
Imam ath-Thabari mengartikannya dengan makna maghfirah (ampunan)[9]. Sedangkan menurut Ibnu Katsir rahimahullah maknanya ialah, mereka mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.[10]

“(dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk)”.

Disamping karunia yang telah disebutkan, mereka juga termasuk golongan orang-orang muhtadin (yang menerima hidayah), berada di atas kebenaran. Mengatakan ucapan yang diridhai Allah, mengerjalan amalan yang akan membuat mereka menggapai pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala [11]. Dalam konteks ini, yaitu keberhasilan mereka bersabar karena Allah.[12]

Ayat ini menunjukkan pula balasan bagi orang yang tidak mampu bersabar. Yaitu akan mendapat balasan dalam bentuk celaan, hukuman dari Allah, kesesatan dan kerugian.[13]

KESABARAN MENGHADAPI MUSIBAH MELURUSKAN AQIDAH

Kata sabar berasal dari shabara. Yakni menahan dan menghalangi. Mengandung makna mengekang jiwa dari menolak ketetapan takdir, menahan lisan dari keluh-kesah dan murka, serta mengendalikan anggota tubuh dari tindakan memukuli pipi, merobek-robek baju, dan reaksi-reaksi lainnya yang bersifat jasmine, dengan maksud menggugat takdir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
??
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” [At Taghabun/64:11]

Alqamah rahimahullah, seorang dari kalangan Tabi’in berkata: “Ia adalah seseorang yang dilanda musibah. Kemudian ia meyakini bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga tetap ridha dan berserah diri”.

Said bin Jubair berkata,”Maksud firman Allah di atas, yakni ia mengucapkan istirja’ dengan mengatakan ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (saat dilanda bencana).”
Ayat di atas, sebagaimana disampaikan Syaikh Shalih al Fauzan, adalah merupakan dalil, bahwa amalan termasuk dalam lingkup keimanan. Ayat ini juga menunjukkan, bahwa kesabaran merupakan pintu hidayah bagi hati. Dan seorang mukmin membutuhkan kesabaran dalam segala keadaan.
Yang lebih penting lagi, saat dilanda berbagai macam musibah, maka kesabaran benar-benar dituntut untuk selalu dikuatkan keberadaannya. Tidak bisa tidak, karena musibah-musibah yang terjadi tidak lepas dari ketentuan Allah Ta’ala. Sehingga ketidaksabaran, justru akan menggoreskan cacat pada keimanan seseorang terhadap rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala.[14]
Bahkan hakikatnya musibah itu mendatangkan berbagai kemanfaatan. Diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Bencana-bencana merupakan kenikmatan. Sebab menggugurkan dosa-dosa dan menuntut adanya kesabaran, sehingga memperoleh pahala. Juga mengharuskan inabah (kembali) kepada Allah, menghinakan diri kepada-Nya, berpaling dari sesama manusia dan kemaslahatan penting lainnya. Terhapusnya dosa dan kesalahan dengan adanya musibah-musibah, (juga) termasuk kenikmatan yang besar…”. Dikutip dari al Irsyad, hlm. 103.

SUKA MENGELUH, GELAR ORANG-ORANG YANG JAHIL [15]

Orang yang jahil (bodoh) mengadukan Allah kepada sesamanya. Ini merupakan tindakan bodoh yang sangat parah terhadap Dzat yang Maha Agung. Seandainya ia mengenal Allah dengan sebaik-baiknya, tentu ia tidak akan mengeluhkan perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga tidak akan mengeluhkan Allah kepada sesama.manusia.
Adapun orang yang berilmu, ia akan mengadu hanya kepada Allah saja. Yaitu dengan menyalahkan diri sendiri, bukan orang lain.

PERLUNYA JIWA DIDIDIK DENGAN BENCANA [16]

Bencana atau musibah yang sedang melanda, hakikatnya memiliki peran besar dalam mendidik jiwa. Karena sudah semestinya jiwa itu juga harus dididik, meskipun dengan bencana. Sehingga ia akan memiliki kekuatan yang tegar, keteguhan sikap, terlatih, selalu respek dan waspada terhadap lingkungan sekitar.
Kesulitan-kesulitan yang dialami jiwa, sesungguhnya akan menghasilkan potensi luar biasa. Potensi itu dalam bentuk kekuatan besar yang tersembunyi. Kesulitan-kesulitan itu mampu membuka celah-celah hati, yang bahkan tidak diketahui oleh seorang mukmin sekalipun, kecuali melalui bencana atau musibah yang menderanya.
Saat itulah, seorang manusia harus segera menyadari, bahwa yang paling penting ialah iltija`. Yaitu mencari perlindungan diri kepada Allah semata, ketika seluruh tempat bergantung mengalami kegoncangan. Tidak ada tempat berlindung kecuali naungan-Nya. Tidak ada pertolongan, kecuali dari-Nya. Di saat-saat genting itulah, tabir kepalsuan kekuatan makhluk tersingkap. Tidak ada kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah. Tidak ada daya kecuali daya-Nya. Dan tidak ada tempat perlindungan kecuali kepada-Nya.
Razaqanallah husnal khatimah. Wallahu a’lam.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun X/1428H/2007M, Rubrik Mabhats, melalui http://rumahmadina.com/blog-artikel-islam/bersabar-saat-tertimpa-bencana-meluruskan-aqidah/]



Category : edit post

Satu Hati Kuatkan Dakwah islam di Ekonomi

Posted by Formi Madani On 12:59 PM 0 comments




Hari ini cuaca tidak begitu cerah, hal itu bertahan sebelum hujan deras mengguyur diatas pukul 11, hingga bermalas - malasan sepertinya adalah satu-satunya hal yang diminati banyak orang dalam kondisi seperti ini, tidak terkecuali 'Mahasiswa'.

Contras, pilihan berbeda yang diambil beberapa mahasiswa ekonomi, semenjak jam sepuluh telah berada di areal GM untuk persiapan Temu Ramah ADK, ADKP dan Alumni. dan sejak jam 10.30 pagi mereka berpacu bersama rintik - rintik hujan yang turun, demi sebuah kata 'Dakwah'.

Waktupun bergulir, jam satu acara dimulai dengan kedatangan salah seorang ADKP, Pak Abror pun datang meski sempat mendapati panitia menyusun kursi untuk acara, dan agenda dibuka oleh Bejo, berlanjut dengan Tilawah kemudian kata sambutan dari ketua panitia: Rahmad, dan pastinya kata sambutan ketua Formi: Relfi Andra.

Tausiyah dari Pak Abror menghangatkan suasana dan setelah itu diskusi yang fasilitasi oleh tiga orang ADKP, Pak Hendri Andi Mesta, Pak Gesit thabrani dan Pak Abror, Edo andrefson seorang mahasiswa dan juga aktivis kampus yang energetic mengambil peranan sebagai seorang moderator.

Situasi acara mengikuti alurnya masing - masing, berdiskusi tentang tutorial, wisma dan keislaman diketengahkan dihadapan peserta, hingga tidak terasa Azan pun menggema dan para Peserta berhimpun dalam satu tujuan, Mesjid Al-Azhar.


Setelah asar jumlah persertapun tidak berkurang, 'formi madani selalu dihati' menjadi obat penyejuk di hati untuk menepis sejenak kelelahan yang menyapa, "Satu hati, kuatkan Dakwah Islam di Ekomi" kata - kata di spanduk mengharu birukan semangat mereka seiring dengan angin badai yang menerpa diluar sana. 24 orang akhwat, 6 dari 2010, 6 orang 2009, 8 orang 2008 dan 4 orang dari 2007.

10 orang ikhwan, yang mengaliri ombak dakwah di kampus pun tidak kalah dengan semangat 100 orang mujahid. Allahu Akbar !!

Tepat jam lima kurang sepuluh menit, peserta ikhwan meninggalkan ruangan untuk berdiskusi tentang gerakan dakwah kedepannya sedangkan peserta akhwat mendapat kehormatan menempati ruangan namun dengan agenda yang sama, diskusi tentang dakwah formi selanjutnya.. dan Subhanallah melihat semangat dimata mereka untuk melanjutkan langkah dakwah yang telah dimulai dan tak akan berakhir ini. Melihat mereka seperti melihat ADK yang kini menjadi BP tertua dalam kalender akademik,, ide-ide segar bermunculan dari masing-masing peserta setelah mereka dibagi berdasarkan gender dan itu indah, seindah islam menghargai mereka yang bertahan dalam hijabnya.

Agenda temu ramah yang terasa memang benar-benar ramah untuk semua peserta sehingga perlahan terlihat harapan kedepan agar ukhuwah ini tetap bertahan dan semakin erat, agar Formi dikenal bukan karena ketidak legalannya tapi karena rangkaian acara yang diangkatkannya, agar Formi mengerti kebutuhan yang sedang dirasa mahasiswa dan agar anggota yang tergabung mendapat amunisi semangat dari rangkaian kegiatan internal yang baru saja diusulkan oleh salah seorang ADK 2010.

Rangkaian acara berakhir menjelang jam 6 sore, tak ada wajah letih ketika tiga kali takbir diteriakkan, dan sebelum keluar ruangan,,sekali lagi spanduk menyita perhatian ‘Satu hati, Kuatkan Dakwah Islam di Ekonomi’ dan segera kuaminkan.

Kita telah memulainya, dan kita tidak akan mengakhirinya . . .



Category : edit post

Temu Ramah FORMI dengan Peserta OR

Posted by Formi Madani On 6:30 PM 0 comments



Alhamdulillah…..

Terus berusaha untuk menjadi organisasi yang mewadahi anggotanya menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari, hingga menjadi generasi Rabbani, berorientasi tidak hanya kesejahteraan dunia, tapi juga kesuksesan akhirat, itulah FORMI MADANI……..

Pada Sabtu, 10 April 2010 pengurus FORMI MADANI 2009/2010 mengadakan acara Temu Ramah dengan adik-adik BP 2009 yang masuk dalam Open Recruitment (OR) FORMI MADANI. Acara yang berlangsung dari pukul 14.00 hingga azan ashar ini diadakan di GM 4 UNP.

Acara ini dipandu oleh Muhammad Sugero, mahasiswa jurusan akuntansi BP 2009. Setelah pembacaan Alquran, pengarahan singkat tentang acara dijelaskan oleh koordinator KPSDA. setelah penjelasan singkat tentang acara, Ketua Umum FORMI MADANI, Relfi Yandra, Memandu acara inti, yaitu sesi pengenalan FORMI MADANI. Ketua Umum FORMI yang merupakan mahasiswa pendidikan ekonomi BP 07 ini menampilkan video profil FORMI MADANI, memperkenalkan pengurus FORMI MADANI, dan memberikan kesempatan kepada generasi 09 FORMI MADANI untuk memperkenalkan diri.

Sebelum acara ditutup, pengurus FORMI memberikan pengumuman tentang adanya sistem magang bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi BP 09 dalam ikut berperan serta dalam mengadakan kegiatan-kegiatan FORMI.



i luph islam

Posted by Formi Madani On 4:46 AM 0 comments





Photobucket



Category : edit post

About Me

Followers